Senin, 20 Januari 2014

Sejarah & Jenis Komputer



Sejarah Komputer
Sejarah Komputer menurut periodenya adalah:
  • Alat Hitung Tradisional dan Kalkulator Mekanik
  • Komputer Generasi Pertama
  • Komputer Generasi Kedua
  • Komputer Generasi Ketiga
  • Komputer Generasi Keempat
Komputer Generasi Pertama (1946­ – 1959)
Ciri komputer generasi pertama adalah:
- Penggunaan tube vakum (yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar)
- Adanya silinder magnetik untuk penyimpanan data.
- Instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu.
- Setiap komputer memiliki program kode­biner yang berbeda yang disebut “bahasa mesin” (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya

Komputer Generasi Kedua (1959­ – 1964)
Ciri-ciri komputer pada generasi kedua:
- Penggunaan transistor sehingga ukurannya lebih kecil
- Adanya pengembangan memori inti­magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya
- Penggantian dari bahasa mesin menjadi bahasa Asembly
- Muncul bahasa pemrograman COBOL dan FORTRAN

Komputer Generasi Ketiga (1964­ – 1970)
 Ciri-ciri komputer pada generasi ketiga:
- Penggunaan IC(Intregrated Circuit)                 
- Ukuran komputer menjadi lebih kecil
- Ditemukannya Sistem Operasi

Komputer Generasi Keempat (1979­ – sekarang)
Ciri-ciri komputer pada generasi keempat:
 • Digunakannya LSI, VLSI, ULSI
• Digunakannya mikroprosesor

Jenis Komputer

Berdasarkan Data Yang Diolah
1.    Komputer Analog
Komputer ini merupakan komputer yang digunakan untuk menerima sinyal analog, biasanya digunakan untuk melakukan pengecekan untuk data yang tidak berbentuk angka, karena data yang didapatkan adalah data yang bersifat gelombang.

2.    Komputer Digital 
Komputer ini merupakan komputer yang kebanyakan yang kita kenal. Data yang diterimanya adalah data yang sudah berupa data digital. Sedangkan fungsinya digunakan untuk mengolah data yang bersifat kuantitatif dalam bentuk angka, huruf, tanda baca dan lain-lain. 

3.    Komputer Hybrid
Merupakan komputer yang memiliki kemampuan dari komputer analog dan komputer digital. Komputer jenis ini diperuntukkan untuk pengolahan data yang sifatnya baik kuantitatif maupun kualitatif, dengan perkataan lain data kuantitatif yang diolah menghasilkan data kualitatifnya dan sebaliknya.

Berdasarkan Ukurannya
Jenis-jenis Komputer Berdasarkan Bentuk dan Ukuran Fisik tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Tower (menara)
adalah yang biasanya diletakkan disamping atau dibawah meja, karena ukurannya yang relatif besar, sehingga memenuhi meja.

b. Desktop (meja)
adalah komputer yang ukurannya sedikit lebih kecil dari Tower, tetapi biasanya diletakkan diatas meja. Komputer ini paling banyak dipakai karena harganya yang lebih murah bila dibandingkan dengan bentuk yang lain. Komputer yang banyak kita pakai sekarang ini adalah jenis desktop.

c. Portable (mudah dibawa)
adalah komputer yang ukuran sedikit lebih kecil dari Desktop, karena bagian-bagiannya dapat dirangkai menjadi satu kotak saja, sehingga mudah dibawa kemana-mana.

d. Notebook (buku catatan)
adalah komputer yang ukurannya sebesar buku catatan saja, dimana sekarang banyak dipakai pelajar, mahasiswa, dosen, pengusaha, peneliti, dan sebagainya.

e. Sub-notebook
adalah komputer yang ukurannya ada diantara komputer notebook dan palmtop. Ukuran komputer ini sedikit lebih kecil dari notebook karena ada sebagian perangkat yang tidak dipasang, biasanya disk drive.

f. Palmtop
adalah komputer yang dapat digenggam, karena ukurannya yang sangat kecil, kira-kira sedikit lebih kecil dibandingkan kaset video Beta. Komputer ini sering disebut handheld computer.
Sedangkan sebagai tambahan adalah baik mengetahui Jenis-jenis Komputer Berdasarkan Processor Komuter, yang digolongkan menjadi:
1. Mainframe
adalah komputer yang processornya mempunyai kemampuan besar karenaditujukan untuk banyak pemakai.
2. Minikomputer
adalah bentuk mini dari komputer mainframe, kalau mainframe memiliki ribuan terminal komputer mini lebih terbatas hanya sampai puluhan dan mungkin ratusan terminal.
3. Personal Computer
adalah komputer yang ditujukan untuk satu pemakai dengan satupemakaian program apilkasi saat tertentu.

Berdasarkan Penggunaannya

1. Komputer Multimedia dan internet
Untuk menjalankan aplikasi multimedia dan hiburan, dan internet disarankan menggunakan komputer dengan spesifikasi menengah, tetapi dengan sound card
dan speaker yang bagus

2.  Komputer Desain Grafis dan Video Editing
Untuk keperluan desain grafis terutama videio editing, membutuhkan spesfikasi yang besar maka disarankan untuk menggunakan komputer dengan spesifikasi di atas rata-rata.

3. Komputer Game
Komputer untuk game memerlukan spesifikasi yang tinggi. Selain membutuhkan performance dan tampilan detail grafik yang baik, juga diperlukan VGA carcV yang mampu mendukung 3D.

4. Komputer untuk Server
Komponen-komponen komputer yang digunakan sebagai server harus memiliki spesifikasi yang tinggi. Komponen yang dipilih juga harus memiliki life time yang relatif lama. Perlu diingat bahwa komputer server digunakan secara terus menerus, bahkan bisa mencapai berbulan-bulan nonstop. Komputer server ini juga harus memiliki kestabilan dan kecepatan transfer data yang tinggi. Agar komputer server bekerja dengan optimal, prosesor yang digunakan harus memiliki cache memory tinggi.

Akuntansi; Perusahaan Dagang



A. Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya perusahaan membeli barang dengan tujuan menjualnya kembali, tanpa memprosesnya lebih dahulu.

B . Macam- macam perusahaan dagang
1. Pedagang besar (Whole Saler) yaitu pedagang yang membeli barang dari pabrik kemudian menjualnya kepada pedagang kecil.
2. Pedagang kecil (Retailer) yaitu
pedagang yang membeli barang dari
pedagang besar kemudian menjualnya
kepada konsumen.

c. Syarat- syarat penyerahan barang
1. FOB shipping point (free on board shipping point) berartipembeli harus menanggung biaya pengiriman barang dari gudang penjual ke gudangnya sendiri.
2. FOB destination point (free on board destination point) berarti penjual harus menaggung beban

Metode Periodik
Pada metode ini, apabila terjadi pembelian maka jurnalnya adalah mendebet rekening pembelian dan mengkredit kas atau utang dagang. Jika terjadi penjualan maka jurnalnya adalah mendebet rekening kas/ piutang dagang dan mengkredit rekening penjualan. Untuk mengetahui persediaan akhir dilakukan inventarisasi pada akhir periode.
Menggunakan metoda periodik, pencatatan (meliputi penjualan dan pemindah bukuan ) atas perubahan barang dagang dilakukan secara periodik. Oleh karena barang dagang ditampug di akun persediaan barang dagang maka pencataan di akun persediaan barang dagang dilakukan secara periodik pula, lazimnya pada akhir perioa ketika perusahaan menyusun laporan keuangan. Pencaataan di akun persediaan barang dagang ini dibuat pada saat pencatatan penyesuaian.
Akun- akun metoda periodik:
1. Persedian barang dagang
2. Pembelian
3. Potongan pembelian
4. Retur dan keringanan pembelian
5. Biaya angkut pembelian
6. Utang dagang
7. Penjualan
8. Potongan pejualan
9. Retur dan keringanan penjualan
10. Biaya pengiriman penjualan
11. Piutang dagang
12. Cadangan kerugian piutang tak tertagih
13. Biaya kerugian piutang tak tertagih
14. Harga pokok penjualan

Perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan periodik adalah sebagai berikut:
a) Pembelian barang dagangan akan didebit pada akun pembelian.
b) Tidak ada pencatatan pada akun persediaan.
c) Beban angkut pembelian akan didebit pada akun beban angkut pembelian.
d) Retur dan potongan pembelian akan dikredit ke akun retur dan potongan pembelian.
e) Potongan tunai pembelian akun dikredit ke akun potongan tunai pembelian.
f) Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (Cost of Good Sold) dihitung pada akhir periode setelah melakukan penghitungan fisik dan penilaian persediaan akhir.

TRANSAKSI PEMBELIAN
Sistem Akuntansi Pembelian Persediaan Barang Dagang :
Sistem Persediaan Periodik (Periodie Inventory System)
Sistem ini biasanya digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang menjual barang dagangan dengan harga yang relatif murah.

  •  Tidak ada pencatatan atas persediaan untuk semua pembelian dan penjualan.

  • Tidak memiliki buku tambahan (subsidiary ledger) atau kartu persediaan.

  •  Perhitungan persediaan harus dilakukan untuk menyusun laporan keuangan periodic (setahun)
  •   Biasanya dilakukan untuk barang yang harganya tidak mahal
  •  Biayanya murah, tetapi lemah dalam pengendalian

  • Pembelian barang dagang dicatat dalam akunt Pembelian (Purchase)

Bentuk Jurnalnya :
Pembelian
                Kas                                                         Jika dilakukan secara tunai


 
Pembelian
                Hutang Dagang                                Jika dilakukan secara kredit


1. Pembelian dan Penjualan Barang
Dalam sistim perpetual, pembelian dan penjualan barang persediaan dicatat langsung ke akun “Persediaan,” dengan kata lain: perubahan nilai nominal dan volume persediaan langsung terlihat dalam buku besar (ledger) persediaan setiap kali ada transaksi pembelian dan penjualan. Sedangkan dalam sistim periodik yang dicatat hanya kenaikan nilai dan volume persediaan melalui akun yang disebut dengan “Pembelian”, sementara tidak mencatat adanya penurunan pada setiap transaksi penjualan yang terjadi (penurunan persediaan diakui sekaligus di akhir periode dengan melakukan pemeriksaan fisik). Untuk lebih jelasnyanya, kita lihat contoh berikut ini:
JAK Mart, Perusahaan Grossir, menunjukan data sbb:
(a) Saldo Awal Persediaan = 100 units @ Rp 60,000 = Rp 6,000,000
(b) Pembelian = 900 units @ Rp 60,000 = Rp 54,000,000
(c) Penjualan = 600 units @ Rp 120,000 = Rp 72,000,000
(d) Saldo Akhir = 400 units @Rp 60,000 = Rp 24,000,000
(Note: Untuk menghindari penggunaan cost flow—yang bisa membingungkan, kita asumsikan cost per unit persediaan konstan dari awal hingga akhir periode)

Bagaimana jika JAK Mart menggunakan sistim periodik? Jurnalnya akan nampak sebagai berikut:
(a) Saldo awal persediaan (di Neraca) = Rp 6,000,000
(b) Pembelian 900 units dengan harga Rp 60,000 per unit dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Pembelian = Rp 54,000,000 (menggunakan akun pembelian)
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 54,000,000
(c) Pada sistim periodik, penjualan 600 units dengan harga Rp 120,000/unit dicatat hanya dengan satu jurnal saja—untuk mengakui penjualan dan piutang dagang (Note: penurunan persediaan dan pengakuan harga pokok penjualan dilakukan sekaligus di akhir periode):
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 72,000,000
[Kredit]. Penjualan = Rp 72,000,000
(Untuk mengakui penjualan dan piutang)
(d) Di akhir periode, setalah dilakukan penghitungan fisik, JAK memasukan jurnal penyesuaian—untuk mengakui persediaan, harga pokok penjualan, sekaligus ‘menghapus’ saldo akun “Pembelian”—sebagai berikut:
[Debit]. Persediaan = Rp 18,000,000
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 36,000,000
[Kredit]. Pembelian = Rp 54,000,000
Note: Dengan jurnal penyesuaian yang dimasukan di akhir periode ini, maka saldo akun “Pembelian” menjadi nol, saldo akhir persediaan di Neraca menjadi Rp 24,000,000 (=saldo awal 6,000,000 + adjustment kenaikan 18,000,000), dan muncul Harga Pokok Penjualan di Laporan Laba-Rugi sebesar Rp 54,000,000 (=6,000,000 + 54,000,000 – 24,000,000).

2. Retur Pembelian, Diskon Pembelian dan Cadangan
Apa yang terjadi jika ada retur pembelian atau diskon? Perusahaan yang menerapkan sistim periodik, disamping menggunakan akun “Pembelian”—yang bersaldo debit mereka juga menggunakan 2 kontra-akun pembelian (bersaldo kredit) yang diberi nama “Retur Pembelian” dan “Diskon Pembelian.” Jika ada pembelian yang dikembalikan (retur pembelian) atau memeperoleh potongan, maka kontra akun ini menjadi pengurang nilai “Pembelian”. Hasil silang saldo “Pembelian” dan kedua kontra-akun ini menghasilkan apa yang disebut dengan “Pembelian Bersih”. Bagaimanapun juga, semua slado akun ini (Pembelian, Diskon Pembelian dan Retur Pembelian) bersifat sementara saja, nantinya akan dihapus degan jurnal penyesuaian di akhir periode (seperti terlihat pada contoh jurnal penyesuaian sebelumnya). Untuk lebih konkoretnya, kita buat satu contoh transaksi:
Karena adanya kerusakan, JAK Mart mengembalikan pembelian barang sebesar Rp 7,000,000.

Jika JAK Mart menerapkan sistim periodik, maka jurnalnya adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 7,000,000
[Kredit]. Retur Pembelian = Rp 7,000,000
(Note: pembelian megurangi nilai pembelian)

Lanjut dengan diskon…
Di lain kesempatan JAK Mart membeli barang sebesar Rp 10,000,000 dengan termin kredit 2/10, n/30. Karena JAK Mart bisa melakukan pelunasan seminggu setelah pembelian, maka JAK Mart memperoleh diskon 2%. Bagimana jurnalnya?

Jika menggunakan sistim periodik, maka saat pembelian jurnal yang dimasukan adalah:
[Debit]. Pembelian = Rp 10,000,000
[Kredit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
Diskon yang diperoleh tidak diakui sebagai pengurang nilai persediaan (ingat: sistim periodik tidak mencatat persediaan tetapi “pembelian”), melainkan dicatat sebagai “Diskon Pembelian.” Sehingga jurnal yang dimasukan ketika melakukan pelunasan adalah sbb:
[Debit]. Utang Dagang = Rp 10,000,000
[Credit]. Diskon Pembelian = Rp 200,000
[Kredit]. Kas = Rp 9,800,000

3. Retur Penjualan dan Diskon Penjualan
Transkasi lainnya yang terkait dengan persediaan adalah retur penjualan dan diskon penjualan. Pada transaksi ini, baik sistim perpetual maupun sistim periodik sama-sama meggunakan akun yang diberi nama “Retur Penjualan” dan “Diskon Penjualan”—yang kedua-duanya merupakan kontra-akun penjualan (bersaldo debit), bedanya hanya di pengakuan “Harga Pokok Penjualan”. Pada sistim perpetual return penjualan, disamping mengakui penurunan piutang dagang dan penurunan penjualan (dengan akun “retur penjualan”) juga mengakui penurunan harga pokok penjualan dan persediaan. Sedangkan pada sistim periodik, tidak. Misalnya:
JAK Mart menerima barang kembali dari pelanggan (karena cacat) senilai Rp 6,000,000. Harga Pokok Penjualan barang yang diretur tersebut adalah Rp 3,000,000. (Kita asumsikan pengakuan penjualan menggunakan metode bruto/gross method)

Sedangkan jika menggunakan sistim periodik, JAK Mart hanya akan memasukan satu jurnal saja, yaitu:
[Debit]. Retur Penjualan = Rp 6,000,000
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 6,000,000
(Untuk mengakui retur penjualan)
Catatan: Sistim periodik baru akan menghitung saldo persediaan dan mengakui harga pokok penjualan di akhir periode—setelah penghitungan fisik dilakukan.
Selanjutnya, diskon penjualan. Bagaimana pencatatanya?
Oke. Anggap JAK Mart memberikan diskon Rp 200,000 atas pelunasan pembelian sebesar Rp 10,000,000 dari pelanggan (masih menggunakan metode pengakuan penjualan bruto/gross method)
Sistim periodik memasukan jurnal yang sama persis untuk pelunasan yang mengandung diskon penjualan. Dalam contoh ini:
[Debit]. Kas = Rp 9,800,000
[Debit]. Diskon Penjualan = Rp 200,000 (kontra akun penjualan bersaldo debit).
[Kredit]. Piutang Dagang = Rp 10,000,000

Minggu, 19 Januari 2014

Footnote dan Endnote pada OpenOffice.org Writer



1 Pengertian Footnote dan Endnote
Dalam Bahasan Indonesia footnote lazim disebut dengan catatan kaki. Ialah catatan tambahan dalam dokumen yang diletakkan pada bagian bahah halaman. Catatan kaki biasa disimbolkan dengan urutan angka atau karakter- karakter lainnya. Simbol tersebut diletakkan dibelakang bagian yang akan diberi catatan, sementara itu catatannya sendiri diletakkan pada bagian bawah halaman
Endnote hampir sama dengan footnote, bedanya kalau footnote, catatan tersebut diletakkan pada bagian bawah tiap- tiap halaman dimana terdapat bagian yang diberi catatan dan dilanjutkan ke halaman selanjutnya jika area pada halaman tersebut tidak muat. Sementara itu pada endnote, catatan diletakkan pada akhir dokumen. Dimanapun letaknya bagian yang diberi catatan, jika memakai metode endnote, maka catatan diletakkan pada akhir dokumen tersebut.

2  Pengaturan Footnote dan Endnote 

Buka kotak dialog Footnote Settings melalui menu Tools > Footnotes. Kemudian aktiflah pada tab Footnote, Anda dapat mengatur hal- hal sebagai berikut: 
1.    Pilih tipe penomoran yang akan digunakan untuk simbol footnote pada combo box Numbering.
 
Gambar II.1. Kotak dialog Footnote Settings tab Footnotes, untuk mengatur footnote

2.    Pada combo box Counting, Anda dapat menentukan pengulangan angka yang Anda gunakan pada footnote. Jika Anda memilih Per page maka penomoran akan diulangi setiap ganti halaman baru. Jika Anda memilih Per chapter, maka penomoran akan diulang setiap dimulai bab baru. Dan jika Anda memilih Per document maka penomoran akan diurutkan hingga akhir dokumen (penomoran tidak akan diulang).
Combo box Start at akan aktif jika Anda memilih Per documents. Disana Anda dapat menentukan awal penomoran yang akan dipakai pada footnote.
3.    Anda dapat memberi karakter yang akan disisipkan pada tiap- tiap sebelum atau sesudah penomoran footnote dengan mengisikan karakter tersebut pada text box Before dan After, misalnya tanda “ ) ” untuk tanda sesudah penomoran.
4.    Pada bagian Position, pilih radio button End of page atau End of document.
Jika Anda memilih End of page maka footnote akan ditampilkan pada footnote area.
Jika Anda memilih End of document, maka footnote akan ditampilkan pada endnote area, meskipun sebenarnya Anda menyisipkan footnote.
5.    Jika Anda memberi catatan untuk footnote yang panjagnya melebihi area footnote, catatan akan dilanjutkan ke halaman selanjutnya. Anda dapat memasukkan teks pada text box End of footnote dan Start of next page.
End of footnote, pada text box ini, Anda dapat memasukkan teks yang mengindikasikan bahwa footnote dilanjutkan pada halaman berikutnya, misalnya dengan mengisi teks ‘ Dilanjutkan ke halaman – ‘. OpenOffice.org Writer akan secara otomatis memasukan nomor halaman sebelumnya pada akhir teks yang Anda masukkan tersebut.
Start of next page, pada text box ini, Anda dapat memasukkan teks yang mengindikasikan bahwa footnote adalah lanjutan dari halaman sebelumnya, misalnya dengan mengisi teks ‘ Lanjutan dari halaman – ‘. OpenOffice.org Writer akan secara otomatis memasukkan nomor halaman sebelumnya pada akhir teks yang Anda masukkan tersebut.

Pada tab Endnotes pada kotak dialog yang sama, Anda dapat mengatur hal- hal yang sama sebagaimana yang Anda atur pada tab Footnotes.
 
Gambar II.2. Kotak dialog Footnote Settings tab Endnotes, untuk mengatur endnote

3 Menyisipkan Footnote dan Endnote 
Setelah mengatur sifat- sifat footnote yang akan Anda sisipkan, sekarang saatnya Anda menyisipkan footnote tersebut dalam dokumen Anda. Untuk melakukannya berikut ini caranya:
1.    Letakkan kursor pada tempat yang akan disisipi footnote.
2.    Tampilkan kotak dialog Insert Footnote dengan cara memilih menu Insert Footnote.
3.    Pada bagian Numbering, pilih antara radio button Automatic atau Character.
Jika Anda memilih Automatic, maka simbol yang digunakan footnote adalah penomoran sebagaimana yang Anda atur pada kotak dialog Footnote Settings.
Jika Anda memilih Character, maka karakter yang Anda masukkan pada text box Character- lah yang akan digunakan sebagai simbol footnote atau endnote. Anda bisa langsung memasukkan karakter pada text box tersebut, atau Anda bisa mengklik tombol (...) jika Anda ingin mengambil karakter dari kotak dialog Special Character.
                    Gambar II.3. Kotak dialog Insert Footnote

4.    Pada bagian Type, pilih radio button Footnote jika Anda hendak membuat catatan berjenis footnote, dan Endnote jika Anda hendak membuat catatan berjenis endnote.
5.    Terakhir, klik OK, akan disisipkan simbol pada tempat kursor tersebut, dan Anda tinggal memasukkan catatan pada tempat yang telah disediakan.

4 Menghapus Footnote dan Endnote
Untuk menghapus footnote atau endnote caranya sangat mudah, cukup hapus tanda atau nomor yang mewakili catatan yang Anda buat. Maka tanda tersebut beserta catatan yang Anda buat akan terhapus.